Tuesday, September 23, 2014

KISAH HIJRAH NABI MUHAMMAD KE MADINNAH


hijrah ke
Madinah setelah mendapatkaan
wahyu dari Allah (Q.s. Al-anfal ayat
30). Diterangkan bahwa ada orang-
orang yang berdaya upaya untuk

mencelakai Nabi. Nabi berhijrah bersama sahabatnya Abu bakar a.s.
Sebelum melakukan perjalanan ke
Madinah, Nabi bersama Abu Bakar
bersembunyi di gunung tsur dalam
Gua tsur selama 3 hari 3 malam.
Pada saat itu Nabi dan Sahabat Abu Bakar tengah pengejaran para kaum
musyrikin quraisy. Mereka hendak
membunuh Nabi sebagai upaya
memadamkan cahaya islam.
Namun, upaya pengejaran belum
berhasil karena banyak pertolongan Allah diberikan kepada Nabi dan Abu
Bakar. Terlihat dari adanya sarang
laba-laba dan sarang telur merpati di
pintu gua tsur. Sehingga
mengindikasikan tidak ada orang di
dalamnya. Barulah setelah itu, Nabi bersama
sahabat Abu Bakar memulai
perjalanan menuju Madinah.
Diriwayatkan bahwa Nabi dan Abu
bakar melakukan perjalanan bersama
dua orang penunjuk jalan yaitu Abdullah bin Uraiqith dan Amir Bin
Fuhairah dengan berkendaraan unta.
Kaum musyrikin quraisy setelah
kehilangan Nabi dan Abu Bakar,
mereka sibuk menyiarkan ke
sekeliling kota Mekah dan kepada Suku-suku dan kabilah, kepala-
kepalanya dimintai pertolongan untuk
mencari Nabi Muhammad. Siapapun
yang berhasil menangkap nabi akan
diberikan 100 ekor unta.
Di tengah perjalanan di sebuah dusun bernama qudaidin. Salah seorang
penduduknya mengenali Nabi dan
sahabat Abu bakar. Kemudian
diceritakan kepada pemimpin
kabilahnya bernama Suraqah bin Malik
Al Mudlij. Namun Suraqah menyangkalnya karena ia ingin
menangkapnya sendirian.
Secepatnya Suraqah mengejar
perjalanan Nabi dan Sahabat Abu
Bakar. Abu bakar yang mengetahui
ada seseorang mengejarnya merasa khawatir sampai menangis kalau
orang tersebut menangkap Nabi. Nabi
pun berdoa’a kepada Allah dan
dengan kehendak Allah berulang kali
kuda yang ditunggangi Suraqah
tergelincir dan Suraqah jatuh terpelanting ke tanah. Keluarlah rasa
bahwa kemenangan akan di dapat
oleh Nabi Muhammad.
Kemudian Suraqah memanggil nama
Nabi dan meminta perlindungan dari
bahaya dan juga mengucapkan beribu maaf. Akhirnya mengadakan
perjanjian tertulis.
Dari Suraqahlah Nabi mulai
mengetahui tentang imbalan 100 ekor
unta jika berhasil menangkapnya. Nabi
tersenyum dan memerintahkan untuk merahasiakan tentang kepergian
dirinya.
Selanjutnya Nabi dan sahabat Abu
Bakar singgah di sebuah perkemahan
milik seorang perempuan bernama
Ummu Ma’bad. Mereka hendak membeli kurma, daging, dan air susu.
Pada saat itu nabi melihat seekor
kambing yang kurus menderita payah
dan sakit. Beliau hendak memerah
susunya dengan ijin Allah
memancarlah begitu banyak air susu, padahal kambing itu sudah tidak bisa
lagi mengeluarkan air susu. Peristiwa
menakjubkan ini diceritakan kembali
oleh Ummu Ma’bad kepada
suaminya Abu Ma’bad. Sampai-
sampai ia pun bercita-cita jika bertemu Nabi ingin menjadi pengikut dan
sahabatnya.
Sesudah itu, bertemu pula dengan
rombonganm kafilah dari Qabilah Banu
Sahmin yang dikepalai oleh Buraidah
bin Al-Hashib Al-Aslamy. Buraidah yang berhasrat mendapatkan hadiah
100 ekor unta ingin pula menangkap
Nabi.
Beserta 70 orang kaumnya hendak
menangkap Nabi namun dengan
kehendak Allah seketika itu mereka semua membaca Syahadat dan
berislam.
Sebelum sampai di Madinah beliau
telah mendapat pengikut baru yang
dijumpai selama perjalanan. Mereka
mengiringi Nabi hingga ke Madinah. Saat masuk ke Madinah dikibarkanlah
bendera.
Artikel 2DI DALAM GOA TSUR Rasullah (SAW) dan Abu Bakar (RA) tinggal di dalam goa Tsur pada
hari Jum’at, Sabtu, dan Ahad. Selama
itu, berlangsung pertolongan bagi
mereka berdua.
1. Abdullah bin Abu Bakar (RA)
mendatangi goa pada malam hari dan menyampaikan berita perihal
berbagai rencana dan kegiatan orang-
orang kafir kepada mereka berdua.
Sebelum fajar ia sudah kembali ke
Makkah sehingga seolah-olah ia selalu
berada di Makkah. 2. Amar bin Fuhairah menggiring
domba-domba gembalaannya ke
dalam goa pada malam hari sehingga
Rasulullah (SAW) dan Abu Bakar (RA)
bisa minum susu domba hingga cukup
kenyang. Amar menggiring kembali domba-dombanya ke Makkah sebelum
fajar selang beberapa waktu setelah
Abdullah bin Abu Bakar kembali ke
Makkah, dengan demikian jejak kaki
Abdullah terhapus oleh jejak domba-
domba itu. 3. Abdullah bin Ariqat Laitsi, seorang
kafir yang dapat dipercaya dan
bekerja sebagai pemandu yang diupah
oleh Abu Bakar (RA) datang ke goa ini,
setelah hari ke-tiga, membawa dua
ekor onta. 4. Pada waktu itu Abu Bakar (RA)
menawarkan satu dari onta itu kepada
Nabi (SAW) sebagai hadiah. Namun
beliau (SAW) memaksa membeli onta
itu. Abu Bakar (RA) pun akhirnya
bersedia menerima pembayaran sebesar empat ratus dirham untuk
onta itu. Onta inilah yang kemudian
dikenal sebagai onta Rasulullah (SAW)
yang dinamai Quswa.
5. Dengan dipandu oleh Abdullah bin
Ariqat, mereka berdua memulai perjalanan menuju Madinah. Amar
juga menyertai perjalanan mereka.
Artikel 3 PERJALANAN HIJRAH RASULULLAH (SAW) Dari rumah beliau; Rasulullah (SAW) pergi menuju rumah Abu Bakar
(RA) dan kemudian mereka berdua
melompat keluar melalui jendela
belakang rumah dan melarikan diri di
kegelapan malam sebagaimana telah
direncanakan. Berdua saja mereka menempuh jarak lebih-kurang 7.5 Km
menuju sebuah goa yang dikenal
dengan sebutan “Goa Tsur”.
Orang-orang kafir amat sangat marah
karena ternyata adalah Ali (RA) yang
berada di tempat tidur Nabi Muhammad (SAW), maka pencarian
dan pengejaran secara besar-besaran
terhadap Rasulullah (SAW) pun
mereka lakukan. Mereka
mengumumkan sayembara berhadiah
100 ekor onta bagi siapa saja yang dapat menyerahkan kepala Nabi
(SAW).
Artikel 4 Pada September 622, terdapat skenario pembunuhan kepada Nabi
Muhammad, maka secara diam-diam
Nabi Muhammad bersama abu bakar pergi meninggalkan kota Mekkah.
Sedikit demi sedikit, Nabi Muhammad
dan pengikutnya berhijrah ke Yastrib
320 kilometer (200 mil) utara Mekkah.
Yastrib kemudian berubah nama
menjadi Madinat un-Nabi, yang berarti "kota Nabi", tapi kata un-Nabi
menghilang, dan hanya disebut
Madinah, yang berarti "kota".
Penanggalan Isalm yang disebut
hijriah dicetuskan oleh Umar bin
Khattab pada tahun 638 atau 17 tahun setelah peristiwa hijrah. Kota tempat
tinggal Nabi Muhammad disebut
Madinah dan wilayah sekitarnya
disebut Yastrib.
Artikel 5 Kalimah Thayyibah Sungguh tiada Kalimat yang lebih indah dari Kalimat “Laa Ilaha Illa Allah”. Kalimat inilah yang menjadi pembeda seseorang, apakah ia Muslim, Ataukah ia Kafir. Kalimat yang membawa kemaslahatan di seluruh Dunia. Kalimat yang sangat dibenci pihak-pihak tertentu. Kalimat yang dapat membuat perubahan besar pada wajah Dunia. Kalimat yang membawa penerangan bagi segenap Umat Manusia di seluruh Alam. Kalimat
inilah yang akan membuat seseorang bergembira di Hari Kiamat. Sebagai mana pertanyaan Abu Hurairah ra kepada Rasulullah saw : َﻝﻮُﺳَﺭ ﺎَﻳ ْﻦَﻣ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﺪَﻌْﺳَﺃ ِﺱﺎَّﻨﻟﺍ َﻚِﺘَﻋﺎَﻔَﺸِﺑ َﻡْﻮَﻳ ِﺔَﻣﺎَﻴِﻘْﻟﺍ ُﻝﻮُﺳَﺭ َﻝﺎَﻗ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ ْﺪَﻘَﻟ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ﺎَﻳ ُﺖْﻨَﻨَﻇ َﺓَﺮْﻳَﺮُﻫ ﺎَﺑَﺃ ﺎَﻟ ْﻥَﺃ ْﻦَﻋ ﻲِﻨُﻟَﺄْﺴَﻳ ِﺚﻳِﺪَﺤْﻟﺍ ﺍَﺬَﻫ ُﻝَّﻭَﺃ ٌﺪَﺣَﺃ ﺎَﻤِﻟ َﻚْﻨِﻣ ْﻦِﻣ ُﺖْﻳَﺃَﺭ ﻰَﻠَﻋ َﻚِﺻْﺮِﺣ ِﺚﻳِﺪَﺤْﻟﺍ ُﺪَﻌْﺳَﺃ ِﺱﺎَّﻨﻟﺍ ﻲِﺘَﻋﺎَﻔَﺸِﺑ َﻡْﻮَﻳ ِﺔَﻣﺎَﻴِﻘْﻟﺍ ﺎَﻟ َﻝﺎَﻗ ْﻦَﻣ ﺎَّﻟِﺇ َﻪَﻟِﺇ ﺎًﺼِﻟﺎَﺧ ُﻪَّﻠﻟﺍ ِﻪِﺒْﻠَﻗ ْﻦِﻣ ِﻪِﺴْﻔَﻧ ْﻭَﺃ "Wahai Rasulullah siapakah orang yang paling berbahagia dengan syafa'atmu pada hari kiamat?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Aku telah menduga wahai Abu Hurairah, bahwa tidak ada orang yang mendahuluimu dalam menanyakan masalah ini, karena aku lihat betapa perhatian dirimu terhadap hadits. Orang yang paling berbahagia dengan syafa'atku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dengan ikhlas dari hatinya atau jiwanya".(H.R Bukhari) Di seluruh Dunia, setiap orang yang akan menjadi Muslim pasti akan mengucapkan kalimat ini. Dan setiap Muslimyang taat, psati akan sangat sering mengulang-ulang kalimat ini, baik dalam sholatnya, dzikirnya, maupun dalam setiap do’a- do’anya. Seseorang yang sering-sering mengucapkan kalimat ini, akan dengan sendirinya terhindar dari perbuatan-perbuatan dosa. Kalimat ini ialah kalimat tertinggi dalam tingkatan keimanan. Sebagaimana dalam hadist : ِﻪَّﻠﻟﺍ َﻝﻮُﺳَﺭ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻝﺎَﻗ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ُﻥﺎَﻤﻳِﺈْﻟﺍ ٌﻊْﻀِﺑ َﻥﻮُﻌْﺒَﺳَﻭ ﺎَﻬُﻠَﻀْﻓَﺃ َﻪَﻟِﺇ ﺎَﻟ ُﻝْﻮَﻗ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﺎَّﻟِﺇ ﺎَﻫﺎَﻧْﺩَﺃَﻭ ُﺔَﻃﺎَﻣِﺇ ْﻦَﻋ ِﻢْﻈَﻌْﻟﺍ ِﻖﻳِﺮَّﻄﻟﺍ ُﺀﺎَﻴَﺤْﻟﺍَﻭ ْﻦِﻣ ٌﺔَﺒْﻌُﺷ ِﻥﺎَﻤﻳِﺈْﻟﺍ Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Iman itu ada tujuh puluh cabang, yang paling tinggi adalah ucapan LAA ILAAHA ILLAALLAH dan yang paling rendah adalah menyingkirkan tulang dari jalan, dan malu adalah bagian dari keimanan. "(H.R Abu Daud) Lalu apakah makna dari kalimat ini? Sungguh kalimat ini ialah susunan kalimat yang datang hanya dari Allah swt, dan tiada seorang makhlukpun ciptaanNya yang dapat membuat yang semisal. Makna dari kalimat ini, pertama adalah
penolakan terhadap segala ‘ilah’ yang berarti sesembahan atau tuhan atau bisa juga idola, yang diagung- agungkan selain Allah swt yang satu. Selanjutnya adalah pengakuan akan hanya Allah satu-satunya dan tiada lain yang dapat diagungkan dan dipuja-puja. Dua hal inilah yang menjadikan seseorang telah Muslim dan akan diakui keislamannya. Namun, kedua hal ini tidak hanya sekedar pengucapan dan tidak menuntut pertanggungjawaban, sebaliknya, segera setelah seseorang mengucapkan Kalimat “ Laa Ilaha Illa Allah” akan muncullah serangkaian kewajiban-kewajiban yang mengiringinya. Namun saudaraku sekalian, sungguh sekali lagi, tiadalah kalimat terbaik yang dapat diucapkan seseorang selain kalimat ini. sehingga, dengan hanya mengucapkannya saja seseorang sudah diwajibkan Allah untuknya surga dan terhindar dari api neraka yang menyala-nyala. Sebagaimana dalam Hadist Nabi saw : ﺎَﻟ َﻝﺎَﻗ ْﻦَﻣ ﺎَّﻟِﺇ َﻪَﻟِﺇ َﺐَﺟْﻭَﺃ ُﻪَّﻠﻟﺍ َّﺰَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ ُﻪَﻟ َّﻞَﺟَﻭ َﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ ﺎَﻬِﺑ ُﻪَﻘَﺘْﻋَﺃَﻭ ْﻦِﻣ ﺎَﻬِﺑ ﺎَّﻨﻟﺍ “Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah, Allah Azzawajalla mewajibkan surga baginya dan menyelamatkannya dari neraka. ”( H.R Ahmad) Karena itulah sudaraku, sebarkanlah Kalimat ini kepada sebanyak- banyaknya orang dengan cara yang lembut. Ajaklah mereka untuk menikmati keindahan beriman dan berislam. Sebagaimana yang dicontohkan Nabi saw. Beliau mengajak sebanyak-banyaknya Manusia agar dapat merasakan hidayah Allah swt. Dan inilah kewajiban kita sebagai Umat Islam. Sesungguhnyaorang-orang yang tidak mengetahui kebenaran Islam ialah orang-orang yang tersesat. Tugas kitalah sebagai yang mengetahuinya untuk memberikan petunjuk kepada mereka. Wallahu A’lam Bishshawwab…

No comments:

Post a Comment